Minggu, 24 Juli 2016

Tersenyumlah Sebelum Marah


Banyak studi yang menunjukkan keterkaitan antara amarah dan kesehatan jantung. Penelitian baru-baru ini yang ditampilkan di Journal of the American Heart association semakin memperkuat keterkaitan tersebut. Menurut jurnal tersebut, orang yang amarahnya meledak-ledak akan menyebabkan detak jantungnya tidak teratur (disebut atrial fibrillation – AF). AF akan meningkatkan resiko penggumpalan darah menuju otak, sehingga berakhir dengan stroke.

Studi serupa juga dilakukan di Johns Hopkins School of Medicine terhadap 1300 pria berusia menjelang 40 tahun. Pria-pria yang mudah marah akibat stres beresiko terserang penyakit jantung tiga kali lebih besar.


Kemukakan empat pertanyaan pada diri anda. Pertama, apakah masalah ini begitu penting bagi saya? Kemarahan seringkali dilakukan akibat emosi yang diluar kontrol, dan reaksi yang anda tunjukan seringkali disesali kemudian. Oleh sebab itu, tanyakan kepada diri anda sendiri, seberapa pentingkah untuk mengungkapkan emosi dengan cara demikian.

Kemudian, apakah apa yang saya pikir dan rasakan layak dalam situasi seperti ini? Evaluasi reaksi anda terhadap suatu peristiwa, dan berikan penilaian untuk anda pribadi. Misalnya jika anda setuju bahwa tindakan tersebut merupakan hal yang terbaik tak apa, tetapi jika tidak, perbaikilah! Pikirkan juga kemungkinan jika anda berada pada posisinya, sehingga anda tidak akan berbuat sesuai ego pribadi.

Lalu, apakah situasi ini dapat di"modifikasi" sehingga akan mengurangi pikiran negatif saya? Mempraktikkan hal ini jauh lebih mudah daripada anda membacanya. Gambarkan peristiwa yang baru saja anda lewatkan penuh emosi, dan pikirkan ulang saat emosi anda sudah mereda, cari kemungkinan lain untuk keluar dari masalah tersebut tanpa perlu melibatkan emosi. Ingatlah hasil renungan tersebut, dan praktikkan ketika anda mengalami situasi yang serupa.

Terakhir, tanyakan apakah dengan marah saya bisa menyelesaikan masalah? Kecenderungan amarah muncul adalah sebagai reaksi emosi secara spontan, artinya timbul sebagai jawaban cepat menghadapi sebuah persoalan, dan belum tentu benar. Oleh sebab itu, ketika anda menemui permasalahan, cegah amarah dengan pertanyaan kecil ini, pun tersenyumlah!

Senyum akan mampu memberikan sedikit kesegaran sebagai reaksi yang ditimbulkan oleh senyum anda, daripada anda memulai dengan kalimat menuding dan bersikap defensif, misalnya menggunakan kata "kamu", atau "dia," yang justru akan membuat situasi semakin parah.

Kondisi demikian bukan saja makin memancing emosi diri sendiri, melainkan juga lawan bicara anda pada situasi tersebut. Ketika itu terjadi, maka anda pun makin tidak dapat lagi mengontrol emosi, karena gejolaknya yang terus saja menderu untuk keluar. Oleh sebab itu, sebelum hal macam itu terjadi, kembalikan diri pada empat pertanyaan tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar